Tujuh Wacana tentang Bahasa dan Publik Relation

1. Bahasa Tutur tiap generasi

Ada banyak alat yang bisa kita gunakan dalam merekam dan mengenang suatu masa. Sebagai contoh; kamera, video, lukisan, dan bahasa. Namun menurut beberapa ahli bahasa bahwa bahasa lah yang sebenarnya menjadi penanda akan keadaan suatu zaman. Di samping itu pula, bahasa merupakan media komunikasi yang selalu digunakan. Dalam kajian bahasa terdapat sebuah cabang ilmu yang memiliki cukup besar pengaruhnya terhadap perekaman keadaan suatu masa.

Cabang yang mengkaji tentang keadaan seperti itu ialah tutur bahasa. Ini merupakan sebuah objek kajian yang cukup menarik. Namun hanya beberapa orang yang memperhatikan dan menelaah lebih lanjut. Padahal jika kita memperhatikan tutur bahasa yang digunakan itu sangat berbeda dari tiap generasi ke generasi lainnya.

Ketika kita berbicara mengenai tutur bahasa generasi sebelum era reformasi di dunia, hampir kita menemukan beberapa pernyataan yang straight to the poin, tanpa basa basi dan mengutarakan apa yang ada dikepala. Sebagai suatu contoh, keadaan berbagai media pada saat itu seakan-akan merdeka akan apa yang ingin di informasikan kepada masyarakat. Baik media cetak, media modern, ataupun media tulis bebas mengungkapkan apa yang ingin diutarakan.

Bahasa tutur ini juga sangat berbeda ketika zaman orde baru. Bahasa tutur yang digunakan pada saat itu merupakan bahasa yang bersifat eufimisme. Bahasa ini mengandung banyak ketidak jujuran dalam penyampaiannya kepada publik. Sebagai contoh, kenaikan harga bahan bakar akan disesuaikan dengan keadaan masyarakat Indonesia dan sesuai keadaan pasar pada saat itu. Padahal realita yang terjadi di lapangan sangat jauh berbeda. Harga bahan bakar tidak hanya jauh berbeda dari pasar melainkan terus naik sampai mencapai titik yang sangat tinggi sekali sehingga mengakibatkan kesusahan ekonomi bagi kalangan menengah kebawah. Contoh selanjutnya ialah pencopet itu telah diamankan oleh pihak yang berwajib. Sekali lagi kita dibutakan oleh tutur bahasa yang digunakan masyarakat pada saat itu khususnya para eksekutif. Benar-benar amankah seorang pencopet yang ditangkap oleh aparat yang berwajib kalau kenyataannya justru mengalami penyiksaan fisik hingga babak belur. Hal ini merupakan ragam bahasa tutur yang beredar, dan masih banyak lagi. Dibalik semua itu terdapat sebuah tujuan yang ada yakni untuk mereduksi kekasaran yang ada dan Penggunaan eufemisme untuk menutup-nutupi kenyataan yang sesungguhnya, tak lebih sebuah pembohongan publik; topeng manipulasi sebagai kedok persembunyian akibat tidak adanya “kemauan politik” untuk melakukan sebuah perubahan.

Sedangkan bahasa tutur yang digunakan sekarang ini lebih bebas. Bebas di sini mengandung arti adanya transparansi dalam bertutur dalam mencapai kesejahteraan yang berdasarkan pada kepercayaan publik. Jika kita mengamati bahasa tutur yang sedang beredar, kita akan melihat realita yang berbicara dalam mengungkapkan kebohongan-kebohongan masa lalu. Banyak hal yang telah disembunyikan oleh bahasa tutur yang lalu. Bukan bermaksud untuk menyalahkan namun hal ini ditujukan sebagai acuan dalam mengais-ngais luka akibat tutur yang direkayasa bukan murni. Disamping itu, ragam tutur sekarang sedikit mengungkapkan niat dalam mencapai kesejahteraan. Baik untuk dirinya  maupun terhadap orang lain.

2. Apa saja yang menjadi Pembeda bahasa tutur tiap generasi?

Kita telah mengetahui sedikit tentang bahasa tutur tiap generasi. Bahasa tutur yang digunakan pada era Orde baru, era Reformasi, dan era pasca reformasi memiliki perbedaan yang cukup mencolok diantaranya, bahasa di orde lama penuh dengan kebohongan yang ditutupi. Penuh dengan makna yang tersirat, tidak langsung mengarah kepada pokok persoalan. Selain itu bahasa tutur pada generasi orde baru lebih bebas dan lebih informatif. Hal ini disebabkan karena perubahan regim atau pemerintahan yang pada awalnya bersifat “Disiplin” menuju masa yang bebas. Lain halnya juga generasi pasca reformasi yakni masa sekarang ini. Ragam tutur yang digunakan cenderung meniru dan menyerap bahasa-bahasa asing dalam tiap penuturan. Orang-orang menganggap bahwa kemampuan bahasa asing itu adalah sebuah prestige atau sebuah harga diri yang sangat lebih. Sehingga masyarakat maupun para eksekutif banyak memilih diksi bahasa asing.

3. Apa penyebab perbedaan bahasa tutur?

Perbedaan bahasa tutur pada masa-masa tersebut ialah, pengaruh lingkungan, modernisasi, kepentingan politik, dan pergesaran budaya. Pertama, bahasa tutur itu sendiri telah terbentuk dalam suatu tatanan yang terstruktur. Oleh karena itu bahasa tutur itu merupakan suatu produk dari interaksi di lingkungan sekitar. Hal yang kedua, akibat adanya modernisasi bahasa tutur itu mengalami perkembangan. Bukan hanya perkembangan yang mikro, perkembangan makro pun tidak bisa dihindarkan. Sehingga bahasa tutur yang dulunya hasil dari interaksi sosial sedikit bergeser diakibatkan pengaruh modernisasi. Kita dulu tidak mengenal istilah chatting, on-line, copy, paste, dll. Hal ini muncul karena akibat dari modernisasi. Selanjutnya, ragam tutur ini disebabkan juga oleh kepentingan politik dalam pencapaian suatu kekuasaan. Sebagai contoh, “Karyawan itu terpaksa dirumahkan karena telah melanggar peraturan”. Wajarkah seorang karyawan yang dipecat tanpa diberi pesangon dihibur dengan pernyataan dirumahkan. Hal ini merupakan bahasa tutur yang memiliki kepentingan elit politik di dalamnya. Penyebab terakhir ialah pergeseran budaya yang kian semakin menelan dan meluluhlantahkan budaya ibu. Sebagai bangsa yang merdeka, bangsa Indonesia seharusnya bangga akan Bahasa Indonesia itu sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang diadakan dalam mendeteksi bahasa lokal yang ada di dunia ini, hanya ada sebagian kecil saja negara yang memiliki bahasa asli dan masih digunakan sampai saat ini. Negara Indonesia salah satunya negara yang memiliki bahasa asli. Namun realita zaman berkata lain, perlahan bahasa ibu kian berkurang pemakaiannya. Banyak yang mulai melirik bahasa asing sebagai bahasa yang modern dan bahasa kaum cendekiawan. Realita yang terjadi, banyak kaum eksekutif yang sering merasa hebat jika berbicara terdapat sedikit kutipan bahasa asing di dalamnya. Jika perlu, mereka ingin berbicara sepenuhnya dengan menggunakan bahasa asing tersebut. Sungguh pergeseran budaya tutur yang sangat ironis.

4. Double speak (noam Chomsky) di era reformasi

Seperti yang telah kami bahas di awal tulisan ini, bahwa bahasa tutur tiap generasi itu berbeda termasuk di dalamnya era reformasi. Namun suatu hal yang perlu ditegaskan bahwa pada era reformasi masih terdapat double speak. Namun sedikit mengalami perhalusan istilah dari double speak ke euphimisme yang pada dasarnya memiliki makna yang sangat dekat. Dalam era reformasi ini para pimpinan kaum elit politik ramai-ramainya menggunakan eufismisme ini dalam bertutur. Mereka mengatakan bahwa kebijakan kenaikan bahan sembako di pasaran merupakan pertimbangan yang di dasarkan pada anggaran belanja negara, padahal itu bukan sebuah kebijakan tapi taktik yang digunakan agar rakyat merasa aman dengan pernyataan itu tanpa mempertanyakan usut dari keputusan yang di ambil. Nampaknya rakyat senang juga dipertontonkan bahasa yang bersifat ganda ini. Sehingga jangan heran jika kelak masyarakat latah menggunakan bahasa ganda ini dan tak segan-segan memanipulasi data atau melakukan kebohongan sebagai bentuk penghormatan terhadap rezim yang tengah berkuasa.

5. Kritis tidaknya bahasa sekarang ini?

Dengan melihat perkembangan bahasa tutur dari generasi ke generasi, bahasa tutur ini akan mengalami sedikit pergeseran fungsi maupun makna. Pada dasarnya bahasa itu bersifat informaitif dan kritik. Namun permasalahannya ialah sejauh mana fungsi bahasa tutur pada generasi saat ini. Kita telah banyak menjumpai jargon-jargon yang di ucapkan oleh kaum anti proletar dan haus kekuasaan. Mereka mengucapkan sesuatu dengan sangat bebas. Mengumbar janji dan misi yang ingin mereka perlihatkan pada semua orang. Padahal hal itu hanya sekadar taktik dengan bersembunyi di balik bahasa. Dan kenyataannya bahasa sekarang lebih transparan dari generasi sebelumnya. Banyak pernyataan yang mengungkapkan akan transparannya bahasa saat ini. Sedangkan di lain pihak berpendapat bahwa bahasa saat ini sengaja di buat agar terlihat transparan. Padahal di balik itu semua terkandung niat yang terselubung. Hal ini dibuat hanya untuk mengambil hati dan kepercayaan publik. Ini semata-mata hanya untuk mendapatkan kekuasan. Mereka bertopengkan bahasa tutur yang transparan, padahal banyak duri dan belukar di balik bahasa itu.

6. Apa saja persiapan saya sebelum berpidato dan resiko ketika gagal di depan publik?

Menurut Maria (2002, p.31), “public relation merupakan satu bagian dari satu nafas yang sama dalam organisasi tersebut, dan harus memberi identitas organisasinya dengan tepat dan benar serta mampu mengkomunikasikannya sehingga publik menaruh kepercayaan dan mempunyai pengertian yang jelas dan benar terhadap organisasi tersebut”. Oleh karena itu seorang PR harus memiliki beberapa persiapan, terutama ketika ingin berbicara di hadapan publik.

Persiapan yang saya lakukan selaku seorang PR dari sebuah perusahaan dalam bentuk organisasi ada empat.  Penguasaan materi yang ingin saya sampaikan, mengatur ritme-ritme yang akan saya gunakan agar jelas artikulasi dan pengucapannya, belajar menguasai panggung seperti seorang pemain drama dalam sebuah pementasan dan yang terakhir, speak from the heart.

Saya akan membahas satu persatu persiapan apa yang saya lakukan sebelum berpidato. Yang pertama, penguasaan materi. Hal ini penting karena orang akan menilai pidato itu bagus jika dalam penyampaiannya tidak ada kesalahan kata atau pemilihan diksi yang tepat dan teratur. Selain itu, jika saya menguasai materi saya akan merasa nyaman dalam berpidato layaknya orang yang sedang menasehati anak-kecil. Hal yang kedua, yakni pengaturan ritme dan intonasi suara. Ritme dan irama penyampaian narasi yang pas, disertai dengan intonasi suara yang dinamis, tahu kapan mesti harus lembut, kapan harus lebih lantang, akan membuat audiens kita mampu terlibat sepenuhnya dengan apa yang disampaikan. Lalu, artikulasi yang jernih dan fasih akan selalu bisa membuat efek yang membekas pada benak pendengar kita. Ketiga, penguasaan panggung ini perlu untuk membuat fokus dan menarik perhatian audiens. Apa yang terjadi jika seseorang berpidato, badan terlihat gemetar karena grogi otomatis kepercayaan audiens akan tereduksi. Poin terakhir yang ingin saya bahas ialah, speak from the heart. Hal ini akan tercipta jika ketiga poin di atas telah dipersiapkan sebelumnya. Baik penguasaan materi, panggung, dan intonasi akan menghasilkan kharisma yang sangat dalam ketika berpidato. Jadi, pidato yang hendak disampaikan serasa mengalir begitu saja dari dalam hati ke telinga audiens. Bahkan, tidak hanya sampai pada indera pendengar audiens melainkan ada kekuatan menggetarkan hati yang terlontar lewat keseluruhan kata dan sikap kita terhadap mereka.

Adapun resiko yang akan saya telan ketika saya gagal ialah malu dan dipecat dari perusahaan yang sedang saya tempati. Bagaimana tidak ketika saya berbicara di depan publik saya lupa akan pidato saya, ataukah saya melangkahi poin-poin yang penting, ataukah saya salah pengucapan dan memberikan materi. Pasti dengan sendirinya rasa malu akan menghampiri saya. Terlebih lagi terhadap perusahaan yang memecat saya lantaran malu dan marah.

7. Perlukah mempelajari tutur dari bangsa lain?

Oleh karena itu dalam menghindari segala kemungkinan yang buruk maka dibutuhkan persiapan sebelumnya. Selain keempat persiapan di atas perlu juga kita mengerti bahasa tutur lingkungan yang ada di sekitar area ke PR-an kita. Jangan sampai terjadi kesalaham pemahaman yang menyebabkan pertentangan. Lebih jauh lagi, jika kita dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tutur tujuan maka akan terlihat lebih menarik karena adanya penghargaan yang diberikan kepada audiens. Maka manfaat yang kita dapatkan termasuk perusahaan kita akan meningkat, baik dari segi kepercayaan kostumer maupun dari segi kenyamanan. Sehingga mengakibatkan fungsi ganda terhadap bahasa, yakni sebagai penarik dan pembuat nyaman lawan bicara dan menjadi salah satu strategi dalam pencapaian tujuan suatu institusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s