Marsyas merupakan makhluk yang berwujud manusia setengah kambing yang biasa dikenal dengan istilah satyr. Ia berasal dari Phyrgia dan merupakan komponis lagu-lagu khas Phyrgia. Ia juga merupakan murid dari Pan dan Dewa Bacchus. Ia sangat mahir dalam memainkan seruling dengan nada musik yang cukup tinggi. Bahkan ia menciptakan alat musik sendiri yakni sebuah seruling yang mencakup semua sifat alat musik yang berbentuk pita. Dia sangat dihormati oleh umat beragama karena ia merupakan pencipta lagu-lagu keagamaan bersama dengan ayahnya.

Ia kemudian bekerja sebagai pengiring musik dewi Cybele dan berangkat ke Nysa dan bertemu dengan dewa Apollo. Ia sangat bangga beremu dengan dewa Apollo dan mengaktualisasikannya dalam bentuk pertandingan dengannya. Setelah mengadakan pertandingan tersebut, Apollo keluar sebagai pemenangnya walaupun dengan susah payah. Melihat tingkah laku Marsyas yang terlalu berani untuk menantang Dewa, maka Apollo dendam dan mengulitinya hidup-hidup. Setelah tubuh Marsyas habis di kuliti Apollo sangat menyesal atas kekejaman yang telah ia lakukan.  Ia kemudian memberikan Lyranya dan Seruling Marsyas kepada Bacchus.

Dalam versi lain dikatakan bahwa para peri dan satyr lainnya sangat sedih melihat peristiwa tersebut. Hal itu membuat mereka merasakan di dalam hati mereka seperti ditusuk dan dicabik-cabik tanpa terasa air mata mereka mengalir deras sehingga membuat sebuah aliran. Dari aliran itulah terbentuk sungai Phyrgia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s