Post Kolonialisme di Indonesia

Berbicara mengenai Post-Kolonialisme akan mengingatkan kita semua pada kejadian pahit yang telah terjadi di negara Indonesia tercinta kita ini. Dalam membicarakannya pun dapat kita pandang dari berbagai sudut pandang yakni dari segi psikologis, politik, ekonomi, bahkan dalam dunia kesusasastraan pun kita akan membahas topic tersebut. Telah kita kethui pula bahwa semasa kolonialisme merajalela di Negara kita, terdapat beberapa sastrawan muda yang berusaha menolak kolonialisme tersebut. Namun mereka malah dikucilkan.

Secara umum sebenarnya kolonialisme memberikan kita pengaruh besar yang dibagi menjadi dua, pengaruh fisik dan pengaruh psikis. Penagruh fisik yang teah diberikan Kolonialisme pada kita merupakan sesuatu yang dapat kita rasakan atau dengan kata lain dapat divisualisasikan dalam kehidupan yang real. Namunhal ini tidak terlalu dirasakn oleh bangsa kita karena jika luka di badan itu sungguh masih bias ditahan dengan berbagai macam cara. Namun apa yang terjadii jika psikis kita diserang? Apakah semudah menghilangkan luka fisik? Of course tidak! Karena secara psikis seorang manusia seberapapun kuatnya ia tetap memiliki kondisi psikis yang tidak stabil. Baik penaklukan pertama maupun kedua, sama-sama tak mengenakkan bagi kaum kolonialis. Kedua tipe ini, seringkali telah menumbuhkan produk-produk budaya baru, misalkan saja ada penciptaan seni dan budaya. Begitu pula penciptaan sastra yang memuat subkultur tertentu, yang diam-diam menolak tradisi penjajah.

Jika kita berbicara mengenai perlawanan para pejuang kita terdahulun terhadap kolonialisme tentu saja kita telah banyak mengethui tentang sejarah mereka, namun apkah kita sekalian mengethui adanya perlawanan pejuang kita tanpa melalui suatu perang? Para sastrawan pun banyak yang turut andil dalam penentangan terhadap kaum colonial. Buktinya banyak pengarang muda pada saat itu seperti Di antaranya: Cerita Nyai Dasima (G. Francis, 1896), Cerita Nyai Paina (H. Kommer, 1900), Max Havelaar (Multatuli, 1860, 1972), Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspito, 1940, 1975), Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1922), Salah Asuhan (Abdoel Moeis, 1928), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana, 1937), serta Belenggu (Armijn Pane, 1940). Sastra post-kolonial sesudah perang berjumlah lima buah; Ateis (Achdiat Karta Miharja, 1949), Pulang (Toha Mochtar, 1958), Bumi Manusia (Promoedya Ananta Toer, 1981), Burung-Burung Manyar (Y.B. Mangunwijaya, 1981), serta Para Priayi (Umar Kayam, 1992). Dan diantara karya-karya tersebut Bumi Manusia lah (Promoedya Ananta Toer, 1981) yang dianggap mengandung perlawanan yang paling ekstrim. Di sini, Pram memberikan gambaran bahwa sesuungguhnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkualitas, pemberani, dan pantang menyerah. Tidak boleh bangsa ini dianggap rendah oleh bangsa penjajah. Penjajahlah yang semestinya merasa berdosa telah mengeksploitasi Indonesia secara besar-besaran.

Dalam berbagai konteks manapun Kolonialisasi selalu bergerak pada dua hal. Pertama, menguntungkan si penjajah, terutama pada bidang-bidang tertentu. Kedua, menguntungkan kedua-duanya, karena si terjajah dapat belajar banyak tentang budaya dan kehidupan. Kedua hal tersebut telah menyisakan pengalaman kultural yang luar biasa. Sehingga ia dapat mengacaukan budaya murni kita, dan hal inki telah banyak kita jumpai dalam kehidupan masyarakat kita dari dulu sampai sekarang. Hal ini telah di ceritakan lewat berbagai judul novel karangan sastrawan-sastrawan kita dulu. Hal ini dilakukan demi mencegah hilangnya kebudayaan kita agar tidak tergantikan oleh kolonialisme bahkan para kaumkolonial mengubahnya menjadi Imperialisme.
Jadi sudah sepatutnyalah kita bersyukur karena telah banyak pemuda-pemuda kita dulu yang sarat akan kolonialisme, dan juga bukan hanya pejuang perang saja yang telah berjasa karena banyak juga diantara mereka yang berasal dari dunia kesusastraan. Karya-karya sastra mereka membawa dampak yang sangat besar terhadap budaya perlawanan terhadap Kolonialisme karena kerya mereka dapat memberikan motivasi pada seluruh pembacanya khususnya pada pemuda-pemuda pada saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s